BAB
I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1.
LATAR BELAKANG
Amerika Serikat. Itulah nama dari
sebuah negara besar yang terletak di Benua Amerika Utara. Ada banyak hal yang
membuat negara tersebut bisa termahsyur di hampir setiap penjuru dunia. Mulai
dari kemajuan teknologinya, budaya pop modernnya, popularitas para tokohnya,
keberagaman penduduknya, pengaruh pentingnya dalam sejarah dunia, &
lain-lain. Namun di luar semua kehebatannya tersebut, Amerika Serikat ternyata
juga punya sisi gelap dalam sejarahnya karena di masa lalu, penduduknya pernah
saling bunuh dalam peristiwa yang dikenal sebagai "perang sipil Amerika
Serikat".
Di abad
ke-19, berdasarkan kondisi sosial ekonominya, AS bisa dibagi ke dalam 2 wilayah
: wilayah utara yang sektor industri serta infrastruktur modernnya berkembang
pesat dan
wilayah selatan yang relatif lebih tertinggal serta masih menggantungkan
dirinya pada sektor pertanian, khususnya kapas. Di wilayah selatan inilah
terdapat budak-budak kulit hitam yang dimiliki dan diperkerjakan oleh para petani kaya
setempat untuk membantu menggarap lahan pertanian. Dari segi taraf hidup dan budaya, wilayah utara juga dianggap
lebih makmur & lebih liberal ketimbang wilayah selatan yang dianggap lebih
tradisional & lebih kolot.
Perang
sipil Amerika Serikat (American civil war)
adalah perang saudara yang terjadi di Amerika Serikat (AS) pada tahun 1861
hingga 1865. Perang tersebut terjadi antara pemerintah pusat AS (biasa
disingkat Serikat / Union) yang bertikai melawan Konfederasi Amerika (Confederate States), negara pecahan AS
yang didirikan oleh negara-negara bagian selatan AS yang mendukung praktik
perbudakan kulit hitam. Akibat perang tersebut, lebih dari setengah juta rakyat
AS kehilangan nyawanya & kondisi negara tersebut - utamanya bagian selatan
- sempat porak poranda.
Perang
sipil AS menjadi salah satu perang paling berpengaruh dalam sejarah peperangan
di era modern karena taktik & teknologi yang digunakan dalam perang ini
nantinya diadopsi oleh para pelaku perang di belahan dunia lain, khususnya
Perang Dunia I. Sebagai contoh, perang sipil AS adalah perang pertama di mana
metode parit sebagai garis pertahanan & taktik perang total digunakan.
Teknologi-teknologi modern pada masa itu seperti telegram, jalur kereta api,
& kapal uap juga banyak digunakan selama perang dan berperan besar dalam menentukan alur serta hasil akhir dari
peperangan.
Memasuki
tahun 1830-an, suara-suara yang menginginkan penghapusan aktivitas perbudakan
semakin banyak seiring dengan menjamurnya gerakan abolisionisme di
negara-negara bagian utara. Penolakan terhadap aktivitas perbudakan semakin
gencar menyusul terbitnya novel berjudul "Uncle Tom's Cabin" di tahun
1852 yang bercerita tentang penderitaan seorang budak kulit hitam. Wilayah
selatan lantas merespon fenomena penolakan perbudakan tersebut dengan mengancam
akan memerdekakan diri bila perbudakan sampai dihapuskan. Akibatnya, masalah
perbudakan pun berkembang menjadi masalah sosial politik yang kompleks dan dilematis.
1.2.RUMUSAN
MASALAH
Bertolak dari latar belakang masalah diatas, maka
dirumuskan beberapa masalah yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, yaitu
:
1. Apa itu Perang Saudara ?
2. Apa Latar Belakang Terjadinya Perang Saudara ?
3. Negara apa saja yang terlibat dalam
Perang Saudara Amerika
?
4. Bagaimana Jalannya Perang Saudara
tersebut?
5. Bagaimana
peran Presiden Abraham Lincoln?
6. Apa
saja dampak Perang Saudara?
7. Bagaimana rekonstruksi Presiden
Abraham Lincoln ?
1.3.TUJUAN
dengan mengacu kepada masalah-masalah diatas, maka
makalah ini bertujuan untuk :
1.
Mengetahui
Apa Itu Perang Saudara.
2.
Mengetahui
dan Memahami Penyebab Terjadinya Perang Saudara.
3.
Mengetahui
Negara Bagian Mana Saja Yang Ikut Terlibat.
4.
Mengetahui
dan Memahami Bagaimana Jalannya Perang.
5.
Mengetahui
Bagaimana Peran Presiden Abraham Lincoln.
6.
Mengetahui
Apa Saja Dampak Perang Saudara.
7.
Mengetahui
Bagaimana Rekonstruksi Presiden Abraham Lincoln.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.
Pengertian Perang Saudara (the Civil War)
Perang saudara di Amerika Serikat yang terjadi antara 1861-1865 didalam
lembaran sejarah Amerika Serikat lebih di kenal dengan istilah The Civil War 1861-1865. The Civil War diartikan sebagai Perang Warga Negara
antara bangsa atau warga negara yang tinggal di 11 negara bagian yang berada
diwilayah selatan yang memproklamasikan dirinya sebagai negara Konfederasi
dibawah pimpinan Presiden Jefferson David berhadapan dengan warga negara yang
berdiam di 23 negara bagian yang berada di wilayah utara dengan menyebut
dirinya sebagai pihak Union dibawah pimpinan Presiden Abraham Lincoln.
The Civil
War 1861-1865 dalam pengertian adalah perang saudara, karena sebenarnya
peperangan ini terjadi antara sesama warga negara Amerika yang sebelum perang
meletus sama-sama mengaku sebagai bangsa Amerika Serikat. Peperangan antara
bangsa Amerika Serikat yang tinggal di 23 negara bagian di wilayah utara
berhadapan dengan bangsa Amerika Serikat yang tinggal di 11 negara bagian di
wilayah selatan.
Perang ini
disebut juga sebagai perang budak karena secara substansi peperangan ini
terjadi antara pihak Union (Utara) yang menghendaki penghapusan sistem
perbudakan yang dianggap melanggar Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat,
berhadapan dengan pihak konfederasi (selatan) yang tetap mempertahankan sistem
perbudakan sebagai inti tenaga perkebunan yang merupakan basis perekonomian di
pihak konfederasi.
2.2. Latar Belakang Terjadinya Perang
Saudara (1861-1865)
Perang Saudara Amerika menjadi salah
satu perang pertama yang menunjukkan perang industri persenjataan dalam sejarah
manusia. Sebuah persoalan yang memperburuk perbedaan regional dan ekonomi
antara Utara dan Selatan adalah perbudakan. Orang Selatan, yang marah melihat
keuntungan besar yang didapat pelaku bisnis Utara dari pemasaran kapas,
menyatakan sebab keterbelakangan daerah Selatan adalah bertambahnya kekuasaan
daerah Utara. Sebaliknya, orang Utara menyatakan bahwa perbudakan, yang mereka
sebut sebagai ”institusi yang ganjil”, adalah penyebab utama kemunduran di
daerah tersebut. Padahal, perbudakan bagi orang Selatan sangat penting bagi
perekonomian mereka.
Perang
saudara dilatarbelakangi oleh dua faktor penting yang saling terjalin satu sama
lain. Adapun faktor-faktor itu adalah masalah perbudakan dan upaya penghapusan
perbudakan di Amerika Serikat, sehingga terjadilah
konflik antara pemerintah di kawasan Utara dengan para tuan tanah di wilayah
Selatan mengenai isu perbudakan. Saat itu, Lincoln memutuskan bahwa sudah
saatnya praktik perbudakan dihapuskan. Kebijakan itu ditentang pihak Selatan. Para penguasa Selatan lalu
berencana untuk memisahkan diri dari pemerintah AS. Pada 1860, mayoritas
negara-negara yang masih mempraktikan perbudakan secara terang-terangan akan
berpisah dari AS bila Partai Republik, yang dikenal sebagai Partai Anti Perbudakan, menang pemilihan
umum (pemilu). Dengan terpilihnya Presiden Abraham Lincoln.
Di Selatan, banyak orang yang menjadi
budak yang dimiliki orang lain, dan sebagian besar pekerjaan di ladang
dikerjakan oleh mereka. Sedangkan negara-negara bagian di utara telah
memutuskan membuat hukum yang menyatakan tak seorang pun bisa
memiliki/memperbudak orang lain. Negara-negara utara itu disebut "negara
bagian bebas" dan di selatan "negara bagian budak". Sejarah perbudakan yang berlangsung
di Amerika sudah terjadi sejak wilayah itu menjadi koloni Inggris, berlangsung
selama dua setengah abad (1619-1865. Wilayah utara menentang terjadinya perbudakan,
sedangkan orang selatan pro terhadap perbudakan. Masalah perbudakan menjadi
salah satu faktor penyebab meletusnya perang saudara di Amerika Serikat.
Masalah perbudakan menjadi fokus
perdebatan politik yang sengit diantara kedua wilayah tersebut. Sikap orang kulit
putih diutara yang anti perbudakan itu menggunakan berbagai alasan, diantaranya bahwa perbudakan sesama
umat manusia jelas bertentangan dengan Declaration
of Independence. Segala hak manusia mendapat hak yang sama dalam memperoleh
pendidikan, politik, dan kehidupan
ekonomi.
Demikian pula hak-hak kemerdekaan berkumpul dan mengeluarkan pendapat.
2.3.Negara-negara
Yang Terlibat
1. Terdapat
23 negara bagian yang setia dengan Pemerintah Union, diantaranya adalah
California, Delaware, Illinois, India, Iowa, Kentucky, Marne, Maryland,
Massachussets, Michigan, Minnesota, Missiori, New Hampshire, New Jersey, New York, Ohio, Oregon, Pennsylvania, Rodhe
Island, Vermont dan Wisconsin.
2. Kemudian
tujuh negara-negara Konfederasi, yaitu
:
South Carolina, Mississippi, Florida, Alabama, Georgia, Louisiana, dan Texas.
Dalam perang saudara ini, Virginia, Arkansas, Tennessee, dan North Carolina
menyusul untuk bergabung dalam Konfederasi. Untuk menghadapi peperangan, negara
Konfederasi membentuk Tentara Konfederasi.
2.4. Kekuatan yang Mendukung Wilayah Utara
dan Selatan
Baik dalam jumlah penduduk maupun kekuatan
persenjataan pihak utara melebihi selatan dengan perbandingan sekitar 3:1.
Jumlah negara bagian di utara yang anti perbudakan tercatat 25 negara bagian
dengan jumlah penduduk sekitar 22 juta jiwa. Sementara, pihak selatan didukung
oleh 11 negara bagian dengan jumlah penduduk 9 juta jiwa, 3,5 juta jiwa
diantaranya adalah para budak. Merekalah yang menghasilkan makanan-makanan dan
tekstil yang paling banyak bagi Selatan, dan mereka pulalah yang paling banyak mencangkul, menarik gerobak,
dan melakukan pembangunan bagi tentara konfederasi. Suatu hantaman telak kepada
perbudakan akan melumpuhkan Pertahanan Selatan dan akan menarik ribuan kaum
kulit hitam yang sudah dibebaskan ke Utara.
Sementara
kekuatan industri dan manufaktur pihak utara adalah 9 kali lebih besar daripada
kapasitas yang dimiliki oleh selatan, yang mengandalkan perekonomian mereka
berbasis pada sector pertanian dan perkebunan. Demikian pula pihak utara juga
memiliki infrastruktur yang mendukung berupa jalan kereta api sepanjang kurang
lebih ratusan mil dari utara sampai wilayah selatan. Mengamati dan mempelajari
kekuatan-kekuatan pendukung perang antara Utara dan Selatan, maka dapat
diramalkan bahwa peperangan itu akan dimenangkan oleh pihak utara. Ternyata
perang saudara di Amerika tidak berlangsung mudah atau singkat, bahkan memakan
waktu selama 4 tahun.
Pihak Selatan
memiliki sejumlah jenderal yang tangguh seperti Robert Edward Lee (1807-1870),
Albert Johnson, serta Stonewall Jackson. Menjelang 1862, terutama akibat
perkembangan-perkembangan perang itu sendiri, argumentasi-argumentasi ini mulai
memperoleh dukungan. Konfederasi dalam 17 bulan yang pertama memenangkan
kebanyakan pertempuran yang terjadi dan suatu ancaman mengincar Utara karena
ada kemungkinan bahwa Inggris akan memberi bantuan kepada Selatan pada 1862
yang menurut analisis Selatan adalah dikarenakan wilayah selatan sebagai
pemasok kapas terbesar bagi industri tekstil di Inggris. Selama dua tahun
berikutnya, 1863 pasukan Federal meneruskan ofensifnya, namun Jenderal Lee
senantiasa mampu memperdayakan mereka. Hingga akhirnya, Jenderal Lee menyerah
kepada Jenderal Grant pada 9 April 1865 di Gedung Pengadilan Appomattox,
Virginia. Berbagai faktor kemenangan pihak utara diperoleh dari kekuatan
militer dengan jumlah personel yang lebih besar karena mempunyai jumlah
penduduk sangat besar. Mereka berhasil menguasai jalur perdagangan laut,
memblokade semua pelabuhan yang ada di selatan dan mengepung pantai selatan
sehingga pihak selatan mengalami kesulitan untuk mencari bantuan keluar.
2.5. Jalannya Perang
Pada 12 april 1861
meriam-meriam ditembakkan pertanda meletusnya Perang Saudara. Pada tanggal 14
April 1861, pasukan Konfederasi berhasil menduduki Benteng (Fort) Sumter,
Carolina Selatan. Jatuhnya Benteng Sumter ke tangan pasukan Konfederasi lantas
diikuti dengan bergabungnya negara bagian Arkansas, Tennessee, Virginia, &
Carolina Utara ke dalam Konfederasi,
sehingga sekarang total ada 11 negara bagian yang menjadi anggota Konfederasi.
Di pihak lawan, kemenangan pasukan Konfederasi direspon oleh Presiden Lincoln
dengan memerintahkan perekrutan relawan perang besar-besaran dan blokade di sekitar wilayah
Konfederasi.
Bulan Juli 1861, pertempuran berskala
besar antara pasukan AS (Serikat) dengan Konfederasi akhirnya pecah di Sungai
Bull Run, selatan ibukota Washington, yang berakhir dengan kemenangan pasukan
Konfederasi sehingga pasukan Serikat yang selamat terpaksa mundur ke ibukota.
Terhenyak dengan kekalahan tersebut, parlemen AS pun mengeluarkan resolusi yang
menyatakan bahwa perang melawan Konfederasi dilakukan bukan untuk menghapus
perbudakan, melainkan untuk menjaga keutuhan negara. Harapannya, resolusi
tersebut akan membuat negara-negara bagian budak yang masih menjadi bagian dari
Serikat mengurungkan niatnya untuk bergabung dengan Konfederasi.
Bulan Maret 1862, pasukan Serikat yang
berkekuatan 100.000 personil memulai "Kampanye Semenanjung"
(Peninsular Campaign), serangan besar-besaran yang ditujukan untuk merebut
Richmond, ibukota dari Konfederasi, lewat semenanjung yang diapit oleh Sungai
York & Sungai James yang terletak di pantai barat Konfederasi. Awalnya
pasukan Serikat sukses melaju hingga tinggal berjarak beberapa kilometer dari
Richmond. Namun, pada akhirnya keinginan pasukan Serikat untuk menguasai
Richmond gagal terwujud setelah mereka berhasil dikalahkan oleh pasukan
Konfederasi dalam pertempuran yang berlangsung selama 7 hari di akhir bulan
Juni 1862.
Kegemilangan pasukan Konfederasi di
medan perang front timur masih berlanjut ketika di akhir Agustus 1862, mereka
kembali terlibat pertempuran dengan pasukan Serikat di Sungai Bull Run. Dalam
pertempuran tersebut, pasukan Konfederasi pimpinan Robert E. Lee secara cerdik
memecah diri mereka menjadi 2 dimana sebagian dikirim untuk merebut gudang
senjata lawan dan
memaksa pasukan Serikat untuk mengkonsentrasikan perhatiannya ke sana,
sementara sebagian lainnya yang berjumlah lebih banyak baru menampakkan diri
sehari kemudian untuk melakukan serangan mendadak yang sukses memaksa sisa-sisa
pasukan Serikat yang kekuatannya sudah menurun untuk mundur kembali ke
Washington. Selama dua
tahun berikutnya, 1863 pasukan Federal meneruskan ofensifnya, namun Jenderal
Lee senantiasa mampu memperdayakan mereka. Hingga akhirnya, Jenderal Lee
menyerah kepada Jenderal Grant pada 9 April 1865 di Gedung Pengadilan
Appomattox, Virginia. Berbagai faktor kemenangan pihak utara diperoleh dari
kekuatan militer dengan jumlah personel yang lebih besar karena mempunyai
jumlah penduduk sangat besar.
2.6. Dampak Perang Saudara
Perang Saudara ini menimbulkan
dampak bagi AS, baik menyangkut masalah-masalah dalam maupun luar negeri,
seperti :
a.
Penghapusan sistem perbudakan,
b.
Kehancuran perekonomian pada negara AS
bagian Selatan.
c.
Munculnya kaum petualang dari AS bagian
utara (yang disebut dengan Carpetbeggars)
datang
ke wilayah AS bagian Selatan yang bertujuan untuk melakukan perampokan.
d.
Di tingkat tinggi berusaha untuk
memegang jabatan pada tampuk-tampuk pemerintahan agar
dapat melakukan korupsi.
e.
Di tingkat rendah mereka melakukan
perampokan terhadap harta milik tuan tanah.
f.
Timbulnya rasa benci dari pihak AS
bagian Selatan terhadap orang-orang Negro yang mendapat
persamaan kedudukan dengan orang kulit putih.Kehormatan AS naik di mata dunia
internasional, seperti :
·
AS menuntut Perancis agar menarik
tentaranya yang ditempatkan di Meksiko dengan tujuan menjaga Kaisar Maximilliam
(1867). Tuntutan itu dipenuhi oleh Kaisar Napoleon III karena Perancis merasa
takut berperang melawan AS.
·
AS menuntut Inggris untuk mengganti
kerugian lewat pengadilan internasional di Geneva, karena membantu pihak
Selatan.
·
AS meminta kepada Rusia untuk menjual
Alaska kepada AS pada 1867, untuk dijadikan bagian wilayahnya dengan maksud
mengurung Inggris yang berkuasa di Kanada. Dengan kedudukan ini, AS dapat
mengurung kedudukan Inggris dan Kanada. Pada sekitar abad ke-19 AS berkembang
ke arah barat yaitu dengan menduduki daerah-daerah baru seperti Indiana (1816),
Mississippi (1817), Missouri (1821), Texas (1845), Iowa (1846), Oregon (1848),
California (1850).
2.7. Peran Presiden Abraham Lincoln
Sebelum
menjabat presiden, Abraham Lincoln telah meniti berbagai karier dalam
pemerintahan. Ia berasal dari Partai Republik, sebagai partai baru setelah
megalami berbagai perubahan, terpilih sebagai anggota badan legislative di
wilayah Illinois, dan beberapa tahun sebelum diadakan pemilihan presiden, ia
dikenal sebagai sosok yang anti perbudakan.
Karier Lincoln (1861-1865)
menampakkan kepiawaiannya dalam berdiplomas, menekankan pentingnya untuk tetap
mempertahankan bentuk pemerintahan federal sesuai dengan konstitusi. Pada awal
1860 ia pernah berdebat dengan senator Douglass dari negara bagian Virginia
yang cenderung menyetujui adanya perbudakan, sementara ia sendiri menganggap
bahwa perbudakan jelas bertentangan dengan makna konstitusi dan demokrasi, dan
ia menyerukan pada Pemerintah Federal dan Kongres harus mengalahkan kaum Kolonis
dan pembesar-pembesar setempat yang menghendaki pemisahan.
Berkat
karier politiknya yang sangat menanjak, ia dicalonkan oleh partai Republik
sebagai calon presiden bersama Doglass, hingga akhirnya pada pemilihan presiden
diakhir 1860, Lincoln terpilih menjadi Presiden Amerika. Segera setelah Lincoln
menempati gedung putih pada Maret 1861, dengan berani presiden tersebut
menyatakan anti terhadap perbudakan dan bersumpah demi mempertahankan Persatuan
dalam kerangka Negara Federal Republik Amerika. Pada masa Lincoln, meletuslah
Perang Saudara, ketika pada 4 Februari 1861 wilayah selatan menyatakan keluar
dari negara federal membentuk Pemerintahan Konfederasi dengan memilih Presiden
Jefferson Davis, dan negara bagian Virginia sebagai ibukota konfederasi. Peran
Lincoln dalam Perang Saudara, selain ia dianggap sebagai tokoh pelopor
pembebasan budak Di Amerika, juga banyak disebut sebagai seorang negarawan yang
berhasil mempertahankan Negara Federal Amerika.
2.8. Rekonstruksi Presiden Abraham
Lincoln
Untuk menanggulangi masalah-masalah tersebut, sejak perang berakhir hingga
tahun 1867, AS memasuki periode yang dikenal sebagai era Rekonstruksi:
·
Membangun kembali infrastruktur negara
bagian Selatan yang hancur karena perang.
·
Membangun sarana pelayanan umum masyarakat,
salah satunya adalah: mendirikan sekolah-sekolah gratis.
BAB III
PENUTUP
3.1.
Simpulan
Perang
Saudara Amerika adalah perang yang terjadi antara tahun 1861-1865 di Amerika
Serikat (AS). Sekelompok negara bagian di bagian Selatan ingin merdeka, sedangkan
pemerintahan dan negara-negara bagian di Utara ingin menjaga AS tetap utuh.
Perang saudara terjadi karena penarikan diri 11 negara bagian selatan karena
pertikaian-pertikaian konstitusional dan ekonomi.
Perang Saudara Amerika Serikat
(1861–1865), juga dikenal sebagai Perang Antar Negara Bagian, 11 negara bagian
budak di Selatan mengumumkan pemisahan dari Amerika Serikat dan membentuk
Konfederasi Amerika yang dikenal sebagai "Konfederasi". Dipimpin oleh
Jefferson Davis, pihak Konfederasi memperjuangkan kemerdekaannya dari Amerika
Serikat. Pemerintah federal AS didukung oleh 20 negara bagian, kebanyakan negara
bagian bebas yang telah menghapus perbudakan dan 5 negara bagian budak yang kelak
dikenal sebagai negara bagian perbatasan. Kedua puluh lima negara bagian ini
yang disebut sebagai Uni, memiliki basis populasi dan industri yang lebih besar
ketimbang Selatan. Setelah empat tahun perang berdarah (kebanyakan di negara
bagian Selatan), Konfederasi menyerah dan perbudakan dihapus di seluruh negara.
Restorasi Serikat, dan Era Rekonstruksi yang mengikutinya, menghadapi masalah
yang masih belum terselesaikan selama beberapa generasi selanjutnya.
Pertempuran Gettysburg
·
Tanggal 12 April 1861 – 9 April 1865
(tembakan terakhir pada Juni 1865).
·
Lokasi Situs pertempuran Amerika
Serikat Selatan dan Utara termasuk Antietam dan Gettysburg.
·
Hasil Kemenangan Serikat :
Integritas teritori Amerika Serikat dipertahankan
·
Rekonstruksi : Perbudakan dihapuskan.
·
Casus belli Serangan Konfederasi di
Fort Sumter
Pihak yang terlibat :
·
Amerika Serikat (Serikat)
·
Konfederasi Amerika (Konfederasi)
Komandan :
Abraham Lincoln - Winfield Scott -
George B. McClellan - Henry Wager Halleck- Ulysses S. Grant - Gideon Wellesdan
lainnya Jefferson Davis - P.G.T. Beauregard - Joseph E. Johnston - Robert E.
Lee - Stephen Mallory - dan lainnya
Kekuatan :
2.100.000 >< 1.064.000
Jumlah
korban :
140,414
terbunuh dalam tugas ~365.000 total tewas ~ 275.200 luka-luka 72.524 terbunuh
dalam tugas ~260.000 total tewas ~ 137.000+ luka-luka.
Beberapa Fakta tentang Perang Sipil Amerika
(1861-1865)
·
Perang
Sipil Amerika atau Perang Saudara Amerika dimulai pada tanggal 12 April 1861,
saat pasukan Konfederasi menyerang instalasi militer AS di Fort Sumter di South
Carolina, dan berakhir pada tanggal 9 April 1865 saat pasukan Union memenangkan
perang.
·
Sekitar
6000 pertempuran berlangsung selama perang dan sebagian besar terjadi di
wilayah Selatan.
·
Sekitar
2.100.000 tentara berpartisipasi dalam perang membela Union, sementara
1.064.000 tentara berpartisipasi membela Konfederasi.
·
Korban
tewas di kamp Union tercatat sebesar 360.000 orang dengan 110.000 diantaranya
tewas di medan perang. Sementara itu, 260.000 tercatat tewas di kamp
Konfederasi dengan 93.000 diantaranya tewas di medan perang.
·
Lebih
dari 10.000 tentara yang mewakili Union berumur di bawah 18 tahun.
·
Ulysses
S. Grant memimpin 533.000 pasukan Union setelah dia dipromosikan menjadi Letnan
Jenderal pada tahun 1864. Dia akhirnya terpilih sebagai Presiden Amerika
Serikat ke-18 pada tahun 1869.
·
Selama
perang, banyak pertempuran intens yang menyebabkan sejumlah besar korban dalam
waktu singkat.
DAFTAR PUSTAKA
http://republik-tawon.blogspot.com/2013/03/sejarah-perang-sipil-amerika-serikat.html
Krisnadi,
IG. Sejarah Amerika Serikat. Ombak.
Yogyakarta : 2012
Presiden Abraham Lincoln yang anti perbudakan ingin membebaskan kulit hitam dari perbudakan namun ditentang negara-negara bagian yang masih ingin mempertahankan perbudakan, sehingga timbul perang saudara
BalasHapus